Semoga aku tak pernah lupa cara mencari jalan pulang, tak mesti berbentuk ruang dan pelukan, barangkali berbentuk buah pikiran yang memandu keadaan, mengilhami setiap gerik dan pikiran untuk sampai pada rasa 'pulang' yang sesuai takaran.

"Siang Cari Makan, Malam Cari Pulang".

__

Sebut saja Kana, sejak lulus SMA, hampir setiap perjalanan hidupnya berhenti diepisode kesendirian, hampir tak ada orang lain, apalagi orang tua dikeseharian, namun tentu, si Ibu tak kemana, ia masih disana, didalam 'daging' bernama hati si Kana.

Sejak tinggal sendiri dengan pangkat anak kos, pemuda setengah matang bernama Kana ini hanyalah anak muda dengan segala mimpi dan harapan, serta cita-citanya dimasa kecil, tumbuh dengan impian yang coba ia taklukkan sendiri, mencari jalan agar semuanya terwujud, dan tentu saja dibalik itu, ia selalu bertumpu pada 'sokongan' doa si Ibu, ia meyakini bahwa bagian itu adalah sebab terbesar dalam setiap keberhasilan langkahnya.

__

Mendengar atau mengucapkan kata Ibu, Kana seperti mendengar dan membaca sesuatu yang 'sentimentil', ia selalu melibatkan setiap cerita hidupnya sejauh ini dengan kekuatan-kekuatan bernama ibu, ia selalu suka melibatkan ibu, hampir pasti telinga ibu adalah organ yang selalu ada, dalam segala hal yang tak mungkin didengar siapapun didunia ini, Kana meyakini itu.

__

Ibu, selalu menjadi tahu segala hal tentang Kana, tentang setiap impian, harapan Kana dikemudian, menjadi tahu dan ikut dalam setiap langkah yang diambil, sedih-senang, Ibu ada untuknya, entah kekuatan apa yang ada pada Ibu, tapi Kana selalu meyakini, kata dan nasihatnya terlampau sakti untuk masalah-masalahnya sejauh ini.

Hampir dikatakan tak ada masalah berat, obrolan 30 menit sampai 1 jam jika berbicara via phone, Kana dan Ibu hanya menghabiskannya dengan bercanda, saut-sautan dengan kalimat-kalimat dari yang penting sampai yang paling nggak penting ada pada setiap obrolannya, dengan cara yang sama, masih bercanda ala Kana dan Ibu.

__

Jika ditanya dalam setiap kesempatan, apa yang Kana kangen dari ibu, jawabannya adalah 'omelan' dan 'cubitan' dipaha anak laki-laki ini adalah sebuah kekangenan, walau tahu jika diulangpun rasanya tak akan sama lagi, cubitannya sama, rasanya yang mungkin sudah berbeda, Ibu suka mencubit ketika Kana nakal sebagai anak kecil, mandi kesorean, main bola kelamaan dan segala hal bentuk kenakalan lain sebagai mana anak kecil seumurannya, dan yaa...  ibu juga 'cerewet' sebagaimana ibu pada umumnya.

__

bersambung