Senin 3 Desember 2018

Siang itu aku dan istriku sudah di RSIA Melati Husada, menunggu sekitar 1 Jam untuk melaksanakan control kandungannya, kami harus mengantri seperti biasa, untuk diriku, tak ada yang berbeda hari ini, aku tetaplah aku, wajahnya begitu menyebalkan (topengmu), sedang istriku begitu was-was, seharusnya kemarin ia sudah melahirkan (menurut prediksi dokter) Tapi ku yakinkan padanya, prediksi manusia tetaplah prediksi, hanya sebatas perkiraan, begitulah ku pikir, coba menenangkan, mencoba.

Kemudian istriku harus masuk ke dalam ruangan dokter, kutemani ke dalam, si Dokter lantas berkata, ‘Bu Ratna, kita rekam jantung bayinya dulu ya, kalau bayinya sehat sepertinya bu Ratna harus segera melahirkan hari ini, istriku tersenyum, aku pun mengikuti.

Singkat cerita kami sudah melakukan rekam jantung yang disarankan dokter Maria, dan setelah itu, baru kali itu, ‘Aku sudah merasa, ini sudah saatnya!’, keadaan disana Nampak semakin membosankan, aku mulai kebingungan sepertinya, pikiranku mulai kemana-mana, kita kembali ke ruangan dokter Maria membawa hasil rekam jantung tadi, dokter lantas menyampaikan hasil rekam jantung yang baru saja dilakukan, intinya beliau berkata “detak jantungnya sudah lurus hampir lurus ini mbak, mungkin karena bayinya sudah dibawah, jika ditunda sepertinya akan semakin kekurangan oksigen (khawatirnya begitu), jadi bu Ratna harus segera mengambil keputusan, ada 2 kemungkinan, kami harus berusaha (mengusahakan) lahir normal dulu, baru jalan terakhir harus ceasar”, begitulah kata beliau.

Istriku Nampak diam, aku sedikit kaget, terus terang saja, ah bagaimanapun Tuhan, semoga baik-baik saja, aku yang pertama kali mengiyakan, “iya dok, tak apa, asal anak dan istri saya baik-baik saja”, timpalku di situasi yang tak enak itu, istriku lantas balik bertanya, lagi (mengulangi), “Apakah saya bisa lahir normal dok?”, si dokter Nampak ragu, tapi beliau berkata, dilihat nanti ya, kita lihat dulu bagaimana kondisi bayinya, sekarang kalo iya, bu Ratna harus di runjuk ke Rumah Sakit, kalau setuju, saya buatkan surat rujukan hari ini juga, “hah… sekarang dok?” istriku mulai lemas sepertinya, “Iya..sekarang”, sambil tersenyum ia menunjukkan hasil rekam jantung yang tadi.

Siang yang barangkali membuat seisi kepala perempuanku terkaget-kaget, begitupun aku, siang yang membuat kami menghela nafas, kami menyiapkan segalanya berdua, dan berjanji menghabiskan seluruhnya berdua.

Siang itu dokter memang sedikit kaget, dokter Maria namanya, dokter yang sangat baik dimataku dan juga istriku, Keadaan pada siang itu memaksa kami tertahan di Poli rawat jalan RSIA Melati Husada, kami harus merekam detak jantung bayi kami beberapa saat, berada di lantai 2, prosesnya agak lama memang, tapi tak apalah, ku pikir begitu, bahkan istriku sempat ingin datang ke kampus setelahnya (Rencananya begitu), dalam rangka sidang skripsi Mukti Irianto, vokalis KOS ATOS, adik tingkatku yang sudah seperti saudara sendiri, menginap dirumah berhari-hari sudah biasa bagi Mukti dan aku dan istri (sekeluarga).

Tapi setelah kami menunjukkan hasil Rekam jantung calon bayi kami, agar tetap bisa lahir normal, dokter Maria menyarankan istriku untuk di Induksi dengan harapan siapa tahu setelah merasakan kontraksi calon bayi bisa keluar dengan normal.

Dokter Maria berulangkali menanyakan pada istriku, apakah iya setuju untuk itu, jika ia dokter Maria sediri akan memberikan surat rujukan agar segera mendapatkan tindakan di RSIA Melati Husada Jl Kawi, istri pun mengiyakan, berharap ia tetap bisa lahir normal.

Singkat cerita kamipun setuju, istriku harus dirujuk ke RSIA Melati Husada untuk persiapan, istriku sesegera mungkin (hari itu juga) harus menjalani proses ‘Induksi, yaitu proses dimana perempuan diberikan semacam suntikan obat, yang efeknya membuat perempuan tersebut kontraksi, cara ini ditempuh untuk membantu bayi untuk keluar (katanya begitu).

Sesampainya dirumah sakit, aku dan istriku langsung menyerahkan surat rujukan tadi, 5 menit menunggu kamipun masuk ke sebuah ruangan, dimana kami bertemu dokter laki-laki, yang menjelaskan prosedur ‘Induksi nantinya, ia balik memeriksa keadaan istriku, jika memang benar-benar sehat langsung diadakan persiapan sore ini juga, ‘Dok… Induksi apakah sakit?’ Tanya istriku sore itu, dokter itu terdiam, aku coba tersenyum melihat keingin tahuannya waktu itu, dokter menjawab, kebetulan dokter itu laki-laki, aku lupa namanya, “Wah.. kalo itu saya kurang tau bu, sebatas teori saja, badan seperti di dorong mengeluarkan tenaga, menekan sampai dada, begitulah kira-kira”, dokter menjawab sambil tersenyum, setelahnya kami dipersilahkan menunggu sebentar, menunggu perawat-perawat memanggil kami untuk ke IGD, terasa lama sekali waktu itu, sejujurnya Ratna dan Aku mulai tak sabaran, aku sesekali keluar, kembali lagi, hingga menjelang sore kami pun belum dipanggil.

Aku disini bersama istriku, sedang was-was dan menunggu, kamipun segera melakukan pendaftaran (registrasi), aku menandatangani seluruh dokumen yang diperlukan, tak ada waktu lagi untuk anakku dan istriku, aku amat kebingungan sore itu, istriku tak membawa pakaian lengkap (persiapan untuk melahirkan), aku ingin pulang sebentar, mengambil segala perlengkapan istriku, aku pun masih dengan celana jeans pendek ini, kaos dan tas kecil yang seluruh isinya ‘Receh (nggak penting).

Aku berpikiran untuk pulang sebentar, tapi istriku belum memperbolehkan, “ia.. sebentar, nanti kalo sudah dipanggil (ada kejelasan), kamu ambil perlengkapan melahirkan ya, sudah disediakan di satu paket tas”, aku mengiyakan, berulang kali aku mengelus tangannya, Nampak ia khawatir, aku pun mencoba tenang.

Tak lama kemudian aku bertanya, “Siapa ya, temenku atau temenmu yang bisa kesini, menggantikan aku sebentar, aku tak pulang, biar gak malem, toh kamu sudah pasti disini”, tanyaku pada istri, “Em.. siapa ya, sebentar, Cobak Ria”, hm.. lantas ia membuka hpnya dan menghubungi Ria, aku pun juga menghubungi Ria, dan jawaban Ria, “Maaf mas, ini ada latihan, kalo nanti jam 5 gimana?”, “aduh dek.. urgent banget, aku di RS, berdua tok sama ratna, aku harus pulang sebentar ngambil perlengkapan melahirkan”, aku sungguh kebingungan, tak ada teman yang seperti dia (menurutku), menuruti ini itu, aku kadang ya sedih beberapa kali mengecewakannya, walau pada akhirnya aku berusaha menebusnya, semoga Ria bisa kesini, pikirku dalam hati.

Bersambung.